WAHANANEWS.CO, Sumedang - Petugas Haji Daerah (PHD) Kabupaten Sumedang, H. Shohibin, menyampaikan bahwa pelaksanaan puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah bagi jamaah Kloter 29 KJT berjalan aman, tertib, lancar, dan sukses.
Wukuf yang dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan Selasa (26/05/2026) tersebut merupakan salah satu rukun haji yang wajib dijalankan oleh seluruh jamaah haji.
Baca Juga:
Kloter 29 KJT Siap Hadapi Puncak Haji, Ini Hasil Rakor Petugas dan Karom
Kloter 29 KJT sendiri terdiri dari jamaah asal lima kabupaten dengan jumlah total 441 jamaah. Pemberangkatan jamaah menuju Arafah dimulai sejak Senin pagi (25/05/2026) sekitar pukul 09.00 waktu Arab Saudi dari Hotel 918 dan Hotel 813, dimulai dari rombongan 1 hingga rombongan 11.
“Alhamdulillah seluruh jamaah berangkat menuju Arafah dengan lancar dan tiba bada Zuhur. Masing-masing jamaah langsung menempati tenda sesuai pembagian yang telah disiapkan oleh petugas kloter bersama para karom,” ujar H. Shohibin.
Ia menjelaskan, jamaah KJT 29 ditempatkan di beberapa tenda, di antaranya tenda nomor 20, 10, 12, 19, dan 8.
Baca Juga:
Jemaah Haji KBIHU Multazam Tanjungsari Gelar Doa Bersama dan Istighosah Jelang Puncak Ibadah Haji
Untuk jamaah asal Sumedang, jamaah putra ditempatkan di tenda nomor 8, sedangkan jamaah putri berada di tenda nomor 19.
Di tenda nomor 8, jamaah Sumedang bergabung bersama jamaah asal Majalengka serta jamaah dari Banda Aceh.
Setelah salat Magrib, kegiatan pembinaan dan ta’aruf antardaerah dipimpin langsung oleh Prof. Dr. KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al Manafi, MA selaku Mudir Ma’had International As Syifa sekaligus Ketua KBIHU As Syifa.
“Beliau memberikan kesempatan kepada perwakilan dari Sumedang, Majalengka, dan Aceh untuk saling memperkenalkan diri serta mempererat ukhuwah sesama jamaah,” katanya.
Kegiatan dilanjutkan dengan ibadah masing-masing jamaah, mulai dari membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga istirahat menjelang pelaksanaan wukuf.
Pada pagi harinya usai salat Subuh, kembali digelar kegiatan kuliah subuh yang diinisiasi oleh Prof. Dr. KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al Manafi, MA. Dalam kegiatan tersebut tampil sejumlah ustaz dan tokoh agama dari berbagai daerah.
Dari Sumedang hadir H. Shohibin, KH. Alan Sudirman, KH. Asep Fu’ad Adnan, serta PHD Kabupaten Tasikmalaya KH. Yahya Kamal.
Sementara dari Majalengka diwakili Ustaz Yusuf, dan perwakilan jamaah Banda Aceh juga turut menyampaikan tausiah.
Dalam tausiah umumnya, Prof. Dr. KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al Manafi menjelaskan berbagai dalil mengenai keutamaan wukuf di Arafah.
“Keutamaan wukuf di Arafah tidak hanya dirasakan oleh jamaah yang hadir di sini, tetapi juga menjadi wasilah doa dan ampunan bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang didoakan oleh jamaah haji,” tutur H. Shohibin mengutip tausiah Abuya.
Menjelang pelaksanaan wukuf, jamaah melaksanakan berbagai ibadah sunnah seperti salat duha, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. H. Shohibin selaku PHD Kabupaten Sumedang juga turut mengoordinasikan pembagian petugas pelaksana wukuf di sejumlah tenda.
Untuk tenda nomor 10, khutbah wukuf disampaikan langsung oleh Prof. Dr. KH. Muhyiddin Abdul Qadir Al Manafi, MA, dengan imam KH. Acep dari Bandung Barat dan muazin Sener Mawan dari Bandung Barat.
Sementara pembimbing doa dan muhasabah dipimpin KH. Irfan Hilmi dari Tasikmalaya serta KH. Deden dari KBIHU Qowamah Tasikmalaya.
Adapun di tenda nomor 19 yang mayoritas ditempati jamaah perempuan, khutbah dipimpin KH. Arif selaku pembimbing ibadah tim kloter, imam dipimpin langsung oleh H. Shohibin dari Sumedang, serta muazin KH. Alan Sudirman.
Bimbingan doa dan muhasabah dipimpin KH. Ade dari Tasikmalaya selaku pimpinan KBIHU Ka’bah Islamiyah, didampingi KH. Yahya Kamal dari PHD Kabupaten Tasikmalaya.
Rangkaian pelaksanaan wukuf diawali dengan khutbah Arafah, dilanjutkan azan dan pelaksanaan salat Zuhur serta Asar, kemudian diteruskan dengan zikir dan doa bersama yang dipimpin para pembimbing ibadah.
“Menjelang Magrib, Abuya memimpin doa bersama. Waktu itu merupakan saat yang paling istimewa dan mustajab bagi seluruh jamaah haji untuk memanjatkan doa,” pungkas H. Shohibin.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]