WAHANANEWS.CO, Sumedang - Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldilla secara resmi membuka kegiatan Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda Sarasehan Tahun Baru 2026, yang digelar di Gedung Negara Sumedang, Sabtu (24/01/2026).
Kegiatan tersebut diikuti hampir 200 peserta yang berasal dari 12 kabupaten/kota di Jawa Barat.
Baca Juga:
Hujan Lebat dan Banjir Mengintai, PLN Minta Masyarakat Perhatikan Keselamatan Listrik
Para peserta datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat lingkungan, pegiat budaya, seniman, budayawan, hingga masyarakat umum.
Ketua Pelaksana kegiatan, Asep Maher, menyampaikan bahwa Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda bertujuan untuk menjalin kembali silaturahmi para pegiat alam dan budaya yang telah lama terbangun, sekaligus menghadirkan semangat dan harapan baru di awal tahun.
“Gunem ini diharapkan menjadi resolusi tahun baru, bukan hanya sebatas niat, tetapi juga mendorong perubahan perilaku dan aksi nyata dalam menjaga alam dan budaya,” ujar Asep.
Baca Juga:
Penanganan Bencana Hidrometeorologi Terus Diperkuat, BNPB Fokuskan Hunian dan Logistik
Ia menegaskan filosofi Tata Sunda yang memandang Sunda sebagai satu kesatuan antara alam dan budaya.
Menurutnya, Sunda bukan hanya identitas etnis, melainkan nilai hidup yang harus terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldilla mengapresiasi Kelompok Kerja (Pokja) Alam dan Budaya Cimanuk–Cipunagara serta seluruh pihak yang telah menggagas kegiatan sarasehan tersebut.
Dalam pandangannya, konsep Sunda menempatkan lemah cuncai atau tanah yang subur sebagai pangkal kehidupan dan sumber lahirnya tata krama serta kebijaksanaan hidup.
“Alam dan budaya itu tidak bisa dipisahkan. Ketika alam terjaga, budaya akan tumbuh. Sebaliknya, ketika alam rusak, peradaban pun terancam,” tegasnya.
Wabup juga menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah derasnya arus budaya populer dan konten digital.
Menurutnya, budaya lokal harus mulai dipatenkan, dibranding, dan diperkenalkan secara lebih luas agar tetap relevan dan diminati generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Fajar Aldilla juga menyinggung persoalan lingkungan di Jawa Barat, seperti banjir dan longsor, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, termasuk pengelolaan sampah yang belum optimal serta maraknya galian ilegal.
Ia menegaskan pentingnya edukasi preventif dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Sumedang, lanjutnya, terus melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah, namun membutuhkan kolaborasi semua pihak.
“Pemerintah daerah tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat dan komunitas menjadi kunci,” ujarnya.
Wabup juga menegaskan komitmen Sumedang melalui tagline 2026, “Sumedang No. 1 di Dunia”, yang dimaknai sebagai kadeuleu, karampa, karasa, di mana setiap kebijakan dan program harus nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia berharap sarasehan ini tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi mampu melahirkan rencana aksi dan resolusi lingkungan 2026 yang konkret, membumi, dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Pembina Gelap Nyawang Nusantara (GNN) Sumedang, Asep Riyadi, menyampaikan dukungan dan apresiasinya terhadap pelaksanaan sarasehan budaya tersebut.
Namun, ia juga menyampaikan keprihatinan terkait fokus wilayah pembahasan lingkungan di Sumedang.
“Dalam fakta wilayah, Sumedang bukan hanya memiliki DAS Cimanuk dan Cipunagara sebagai sungai induk. Jangan melupakan Sungai Cipeles dan Cilutung, karena dua sungai ini sejak dulu hingga sekarang membelah sebagian besar wilayah pemukiman Sumedang dan menjadi pusat peradaban,” ujarnya.
Asep menilai, kerusakan tata ruang dan pola ruang secara masif di sepanjang bentangan Sungai Cipeles dan Cilutung masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kabupaten Sumedang.
Ia berharap ke depan dapat digelar sarasehan yang lebih fokus pada mitigasi risiko lingkungan nyata, dengan melihat Sumedang secara utuh dalam satuan DAS Cimanuk, Cipeles, Cilutung, dan Cipunagara.
“Kami GNN selalu mendukung setiap langkah yang menuju perbaikan dan kebaikan Sumedang secara utuh dan menyeluruh,” pungkasnya.
Kegiatan Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda 2026 ditutup dengan ucapan terima kasih dari panitia kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat, serta permohonan maaf atas segala kekurangan.
Secara resmi, Wakil Bupati Sumedang membuka kegiatan tersebut dengan harapan dapat memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga alam dan memuliakan budaya Tatar Sunda.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]