WAHANANEWS.CO, Sumedang - Pengumuman pemenang Lomba Desain Motif Batik sekaligus pembukaan Lomba Membatik menjadi rangkaian kegiatan Sumedang Ngabatik 2026 yang digelar di Pendopo Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Senin (10/8/2026).
Mengusung tema “Sumedang dalam Motif Batik: Sejarah, Budaya, Alam dan Kearifan Lokal”, kegiatan tersebut menjadi langkah untuk menggali sekaligus memperkuat identitas batik khas Sumedang agar semakin dikenal di tingkat nasional.
Baca Juga:
Norbertus Mote Buka Festival Noken Nabire Mewakili Gubernur Papua Tengah
Inisiator Sumedang Ngabatik 2026 yang juga Anggota Komisi XI DPR RI, Galih Dimuntur Kartasasmita, mengatakan dirinya merasa bangga melihat antusiasme peserta dalam mengikuti lomba desain batik tersebut.
“Alhamdulillah, bahagia betul hari ini diikuti oleh 51 peserta dan membuahkan dua kategori, kategori umum dan kategori pelajar. Dari dua kategori itu semuanya luar biasa hasilnya,” ujar Galih.
Menurutnya, persaingan antarpeserta berlangsung sangat ketat. Bahkan, selisih nilai yang diperoleh para peserta relatif tipis.
Baca Juga:
Pemuda dan masyarakat Kabupaten Nabire Peringati Hari Noken Sedunia
“Kalau melihat skor, bedanya nol koma nol koma nol. Artinya, mereka semua sebenarnya sudah jualan. Jadi saya sebagai inisiator sangat bangga dan sangat senang sekali,” katanya.
Galih berharap para pemenang tidak berhenti pada kompetisi desain. Motif yang telah dihasilkan diharapkan dapat berkembang menjadi identitas batik Sumedang yang bisa dibanggakan dan dilestarikan bersama.
“Dari juara ini saya berharap bisa berkembang menjadi identitas batik Sumedang yang bisa kita banggakan dan kita lestarikan bersama,” ucapnya.
Ia menjelaskan, Sumedang Ngabatik 2026 dirancang tidak berhenti pada lomba desain. Tahap berikutnya adalah lomba membatik secara langsung dengan proses pembuatan batik yang sesungguhnya.
“Sekarang ini kan baru sesi desain. Berikutnya adalah lomba membatiknya. Nanti desain para juara ini akan dipakai untuk membatik,” jelas Galih.
Lebih jauh, hasil karya dan para pemenang nantinya akan dibawa ke berbagai agenda berskala nasional, termasuk kegiatan Hari Batik Nasional serta agenda yang berkaitan dengan Kementerian Perindustrian.
“Goal dan visi misi acara ini adalah membuahkan suatu batik identitas Sumedang yang bisa kita lambungkan secara nasional. Intinya itu,” tegasnya.
Dorong Regenerasi Pembatik
Ketua Yayasan Batik Indonesia, Gita Kartasasmita, menilai keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut menjadi hal penting bagi keberlanjutan batik Indonesia.
Menurutnya, generasi muda perlu terus didorong agar mau belajar, tekun dan serius mengembangkan keterampilan membatik.
“Saya senang sekali melihat hasilnya bagus. Saya bilang, ayo, harus banget terus membatik dengan serius,” ujar Gita.
Ia menekankan pentingnya regenerasi pembatik, terlebih batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO.
“Karena kita perlu sekali generasi. Batik kan sudah masuk ke UNESCO, regenerasinya juga dilihat. Kalau sampai tidak ada, sayang sekali,” katanya.
Gita juga mendorong agar pengembangan batik tidak hanya berkutat pada proses menghasilkan motif dan kain, tetapi turut menyentuh aspek inovasi serta lingkungan.
Ia mencontohkan peserta yang memiliki latar belakang bidang pertanian agar dapat memikirkan pemanfaatan limbah dari proses membatik.
“Kalau bisa jangan cuma membatik. Pikirkan bagaimana limbah atau air limbah dari membatik itu bisa menjadi apa. Bisa untuk pertanian atau menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Menurut Gita, kreativitas semacam itu dapat menjadi bagian dari pengembangan potensi generasi muda sehingga mereka tidak hanya menjadi pembatik, tetapi juga mampu melahirkan inovasi baru yang berkaitan dengan industri batik.
Bupati: Batik Sumedang Harus Punya Identitas Kuat
Sementara itu, Bupati Sumedang Doni Ahmad Munir menyampaikan apresiasi kepada Galih Dimuntur Kartasasmita yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.
Ia menilai Sumedang Ngabatik 2026 menjadi wadah penting untuk melestarikan batik Sumedang sekaligus meningkatkan kreativitas, kompetensi dan apresiasi masyarakat terhadap batik lokal.
“Terima kasih kepada Kang Galih, Anggota DPR RI Komisi XI, Dapil SMS dan ibu Gita, yang telah menginisiasi acara lomba desain batik yang menghadirkan sebuah event yang sangat luar biasa, yaitu lomba desain dan lomba membatik,” kata Doni.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat membuka ruang bagi pelajar, perajin, pelaku UMKM dan berbagai pihak untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas pemasaran batik Sumedang.
Doni mengatakan terdapat sejumlah hal penting yang ia lihat dari karya-karya peserta. Salah satunya adalah upaya menggali identitas Kabupaten Sumedang.
“Pertama, mencari wajah baru Batik Sumedang. Dari para juara tadi, betul-betul sudah menggali identitas Kabupaten Sumedang yang bisa diharapkan,” ujarnya.
Kedua, kata Doni, peserta mampu memadukan tradisi dengan inovasi, termasuk memanfaatkan teknologi digital dalam proses penciptaan desain.
Ketiga, setiap motif batik yang dihasilkan memiliki cerita dan makna yang merepresentasikan identitas daerah.
“Setiap batiknya ada ceritanya. Kebanyakan ceritanya terkait Mahkota Binokasih. Jadi harus ada maknanya, dan tadi sudah tergambarkan serta direpresentasikan,” katanya.
Mahkota Binokasih Didorong Jadi Ikon Batik Sumedang
Doni menilai terdapat satu unsur yang cukup kuat muncul dalam karya-karya peserta, yakni Mahkota Binokasih.
Ia menyebut hampir seluruh karya pemenang menampilkan unsur tersebut sehingga membuka peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu identitas utama batik Sumedang.
“Kami sepakat harus ada satu batik yang menunjukkan ini Sumedang. Lihat sekilas saja, ini Sumedang. Dari karya para juara, hampir semuanya ada Mahkota Binokasih,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Sumedang, lanjut Doni, juga akan mendorong kajian lebih lanjut agar motif tersebut dapat diarahkan menuju perlindungan melalui indikasi geografis.
“Kami sudah sepakat. Nanti akan bertemu di lokasi dan kita siapkan untuk masuk ke indikasi geografisnya. Jadi itu menjadi khas Sumedang,” katanya.
Menurutnya, jika identitas tersebut berhasil dibangun, batik khas Sumedang dapat digunakan secara luas, mulai dari batik kantor, batik sekolah hingga pakaian batik bagi karyawan.
Lebih dari itu, ia berharap masyarakat dari luar daerah yang membeli batik tersebut dapat langsung mengenali bahwa motif itu merupakan batik Sumedang.
“Ketika orang luar Sumedang datang ke Sumedang dan membeli batik itu, orang bisa langsung tahu, ‘ini Sumedang’. Saya ingin membangun itu, sehingga top of mind di Indonesia adalah Sumedang dengan batiknya,” tutur Doni.
Tidak Berhenti di Lomba
Doni menegaskan, Sumedang Ngabatik 2026 tidak boleh berhenti sebagai kegiatan perlombaan semata. Menurutnya, kegiatan tersebut harus memiliki konsep pengembangan dari hulu hingga hilir.
“Ini kegiatannya sistematis, hulu sampai hilir. Tidak hanya sebatas lomba, selesai. Setelah lomba ada coaching, pelatihan, hasil desainnya nanti akan dibawa untuk membatik,” jelasnya.
Para pemenang juga akan mendapatkan pendampingan dan pembinaan agar kemampuan mereka terus berkembang. Hasil karya terbaik nantinya akan diperkenalkan dalam berbagai agenda nasional dan pameran yang berkaitan dengan batik dan industri.
Doni berharap pola pembinaan tersebut mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para perajin dan pelaku usaha batik di Kabupaten Sumedang.
“Dilatih kemampuannya, kemudian diasistensi, dibimbing, dibina, dan juga diberikan wadah untuk pemasarannya. Sehingga betul-betul batik ini memberikan peluang ekonomi yang lebih besar bagi para pengrajin batik,” pungkasnya.
Dengan rangkaian tersebut, Sumedang Ngabatik 2026 diharapkan tidak hanya melahirkan motif-motif baru, tetapi juga membangun ekosistem batik Sumedang yang kuat, berkelanjutan, memiliki identitas daerah, serta mampu bersaing dan dikenal di tingkat nasional.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]