WAHANANEWS.CO, Jakarta - Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Sumedang menggelar Musabaqah Qiro’atil Kutub (MQK) Tingkat Kabupaten Sumedang Tahun 2025.
Kegiatan resmi dibuka oleh Asisten Daerah Pemerintahan, Kesejahteraan Rakyat (Asda Pemkesra) Setda Sumedang. Bertempat di Aula Sarana Penunjang Pendidikan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumedang. Minggu (30/11/2025).
Baca Juga:
Camat Cimalaka Resmi Membuka MTQH Tingkat Kecamatan Cimalaka Tahun 2025
Tahun ini, MQK mengusung tema “Menghidupkan Tradisi, Menyemai Keilmuan Menuju Sumedang Simpati.” Acara dihadiri oleh Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, para dewan juri, pimpinan pondok pesantren serta ratusan santri peserta lomba.
Menghidupkan Tradisi Keilmuan Pesantren
Ketua Forum Pondok Pesantren Kabupaten Sumedang, KH. Sohibin, menjelaskan bahwa MQK merupakan ajang bagi santri untuk menunjukkan kemampuan membaca, menerjemahkan, memahami, dan menganalisis kitab kuning secara komprehensif.
Baca Juga:
Ribuan Peserta Meriahkan Fun Walk Puncak HKN ke-61 Tingkat Kabupaten Sumedang
“Musabaqah Qiro’atil Kutub adalah lomba bagaimana membaca kitab kuning, mulai dari membaca, menerjemahkan, hingga memberikan pemahaman serta analisisnya. Tahun ini dilombakan beberapa marhalah, yaitu marhalah ula, wustha, dan ‘ulya atau tingkat kuliah,” ujar KH. Sohibin.
Ia menambahkan bahwa kitab yang dikaji pada MQK tahun ini didominasi oleh kitab-kitab fikih dan ilmu alat.
Kegiatan MQK tingkat kabupaten ini berlangsung satu hari penuh, dari pagi hingga sore, dengan total enam kitab yang dikompetisikan.
Meski tahun ini tidak ada lanjutan ke tingkat provinsi karena penyelenggaraan sebelumnya telah menggunakan metode CAT, pihak FPP tetap menjadikan MQK sebagai agenda penting dalam program kerja tahunan.
Harapan: Lestarikan Kitab Kuning, Cetak Ulama Masa Depan
KH. Sohibin menegaskan pentingnya MQK dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren.
“Harapannya, kegiatan ini dapat mempertahankan tradisi keilmuan pesantren. Kitab kuning adalah jantung dan ruhnya pesantren. Dari sinilah lahir para pewaris ulama masa depan yang tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mengamalkannya,” jelasnya.
Ia juga berharap kegiatan seperti ini mempererat silaturahmi antar-santri, antarkiai, dan antar-pesantren, serta memperkuat sinergi antara pesantren dan pemerintah daerah.
“Alhamdulillah, Sumedang pernah meraih juara pertama nasional pada Pesantren Award. Semoga kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan pesantren menuju Sumedang Simpati dan Indonesia Emas 2045,” tutupnya.
Kemenag Sumedang Apresiasi dan Beri Pesan untuk Santri
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, H. Hamzah Rukmana, menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pesantren yang telah berpartisipasi.
“Atas nama Kemenag Sumedang, kami mengucapkan terima kasih kepada panitia, para kiai, para pengasuh, dan para santri yang mengikuti MQK. Semoga kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi serta penguatan ilmu-ilmu pesantren,” ujarnya.
Hamzah menekankan pentingnya kitab kuning sebagai sumber utama ilmu agama yang harus dipahami santri sejak dini.
“Harapannya, para santri dapat lebih menghayati bahwa kitab kuning adalah sumber ilmu keagamaan dan amaliyah kehidupan sehari-hari. Mereka kelak akan menjadi penerus para alim dan ulama di masa mendatang, sehingga perlu dipersiapkan dengan baik,” jelasnya.
Ia juga berharap para pemenang MQK tingkat kabupaten dapat mengharumkan nama Sumedang pada ajang provinsi maupun nasional di masa mendatang.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]