WAHANANEWS.CO, Sumedang - Pembina Gelap Nyawang Nusantara Sumedang, Asep Riyadi, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terhadap lingkungan di tengah musim hujan yang saat ini mulai memasuki fase masif.
Hal tersebut disampaikan Asep Riyadi dalam acara Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, yang digelar di Gedung Negara Sumedang, Sabtu (24/01/2026).
Baca Juga:
Hadapi Musim Hujan hingga Maret, Dinkes Sumedang Imbau Masyarakat Waspada Bencana dan Penyakit
Asep menyebutkan bahwa jauh-jauh hari pihak Gelap Nyawang Nusantara telah menghimbau seluruh elemen masyarakat, khususnya warga Sumedang, untuk lebih peduli terhadap alam dan menjaga lingkungan, terutama saat musim hujan.
“Dengan kondisi sekarang yang memasuki musim hujan masif, sebenarnya jauh-jauh hari kami sudah menghimbau agar semua elemen masyarakat khususnya Sumedang,” ujar Asep.
Ia menegaskan, upaya berbakti kepada alam dapat dilakukan melalui tindakan sederhana seperti menanam, merawat, dan menjaga pohon.
Baca Juga:
Musim Hujan Tingkatkan Risiko Penyakit, IDAI Ingatkan Prioritas Keselamatan Anak Sekolah
Menurutnya, meski hujan adalah berkah, tetapi jika kondisi tanaman dan pepohonan kurang baik, hujan dapat berpotensi memicu bencana.
“Hujan itu berkah, tetapi kalau dalam kondisi tanamannya kurang, otomatis bisa menimbulkan musibah dan bencana,” katanya.
Asep juga mengharapkan pemerintah Kabupaten Sumedang untuk lebih gencar menggalakkan gerakan menanam pohon kepada masyarakat.
Ia menilai, pohon bukan hanya untuk kebutuhan saat ini, tetapi sebagai warisan untuk masa depan.
“Saya berharap pemerintah Sumedang dengan segala kewenangan dan kebijakannya menggelorakan lagi kepada masyarakat untuk gemar menanam pohon. Karena pohon itu bukan untuk hari ini, tapi untuk masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, Asep menyinggung pentingnya mengikuti warisan leluhur, seperti Siliwangi, yang dikenal sebagai ahli pertanian dan tata kelola alam.
Ia menilai, menjaga lingkungan merupakan bagian dari budaya yang harus terus dilestarikan.
Menurutnya, Sumedang saat ini memiliki sejumlah kawasan yang rawan, seperti tebing di pinggir jalan dan sungai, serta maraknya pembangunan oleh developer di kawasan yang berisiko tinggi.
“Sumedang sekarang yang terhutang itu di kawasan-kawasan tebing baik di pinggir jalan, sungai, dan masifnya developer membangun di kawasan yang secara risiko besar,” kata Asep.
Asep berharap kondisi tersebut tidak menimbulkan bencana, namun jika terjadi, maka menjadi tanggung jawab bersama, dengan peran utama pemerintah sebagai leading sector.
“Kalau pun ada bencana, itu menjadi PR dan tanggung jawab kita bersama, tetapi leading sektornya tetap dari pemerintah,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika pemerintah tidak hadir dan masyarakat merasa lingkungan tidak menjadi milik bersama, maka upaya pelestarian alam akan sulit berjalan.
“Karena kalau pemerintahnya abai, masyarakat juga akan ikut merasa tidak memiliki Sumedang secara utuh dari sisi lingkungannya,” pungkas Asep Riyadi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]