WAHANANEWS.CO, Sumedang - Rencana penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat pasca Idul Fitri 1447 H disebut bukan menjadi prioritas pemerintah.
Hal ini ditegaskan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Sumedang, Iwan Ginanjar, saat ditemui di sekolahnya, Selasa (31/03/2026).
Baca Juga:
Wakil Bupati Sumedang Jadi Narasumber Pendidikan Politik di SMAN 1 Sumedang
Menurut Iwan, kebijakan tersebut merujuk pada arahan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, yang menekankan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap dilaksanakan secara reguler.
“Sesuai arahan dari Bapak Pratikno, sekolah tetap melaksanakan pembelajaran secara reguler. Jadi rencana PJJ yang sebelumnya akan digulirkan pada April setelah Idul Fitri bukan menjadi prioritas pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, SMAN 1 Sumedang telah kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar secara optimal sejak awal pekan ini.
Baca Juga:
SMAN 1 Sumedang Masuk 10 Besar Anugerah Gapura Pancawaluya Jabar, Panitia Siapkan Visitasi Penilaian
“Sejak hari Senin kemarin, kami sudah melaksanakan pembelajaran secara optimal di sekolah,” katanya.
Terkait wacana kebijakan Work From Anywhere (WFA) atau Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN),
Iwan mengaku masih menunggu kejelasan lebih lanjut dari pemerintah. Menurutnya, penerapan WFH bagi guru akan menimbulkan kebingungan apabila siswa tetap diwajibkan hadir di sekolah.
“Kalau PNS harus WFH sementara siswa tetap di sekolah, itu tentu tidak memungkinkan. Untuk guru sendiri sampai saat ini belum ada instruksi harus WFH, jadi kami masih menunggu kebijakan selanjutnya,” jelasnya.
Ia menegaskan, apabila mengacu pada arahan Menko PMK, maka sistem pembelajaran tetap berjalan normal dengan skema lima hari kerja di sekolah.
Lebih lanjut, pihak sekolah berharap kebijakan yang diambil pemerintah tetap mengedepankan kualitas pendidikan.
Iwan menilai, pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa pembelajaran daring berdampak pada penurunan kualitas belajar siswa.
“Pendidikan ini sangat penting bagi kemajuan generasi bangsa. Kita sudah belajar dari masa pandemi, ketika pembelajaran daring terjadi penurunan kualitas pendidikan. Selain itu, orang tua, guru, dan siswa sama-sama mengalami kesulitan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap harus berjalan dan dinilai lebih efektif jika siswa berada di sekolah.
“Program MBG tetap harus dilaksanakan dan itu tidak bisa ditawar. Tidak mungkin anak di rumah tapi tetap harus membawa MBG ke sekolah. Jadi lebih efektif kalau siswa tetap belajar di sekolah tanpa perlu PJJ,” pungkasnya.
Dengan demikian, SMAN 1 Sumedang memilih untuk tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka sambil menunggu kebijakan resmi lanjutan dari pemerintah terkait sistem kerja bagi tenaga pendidik.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]