Menurutnya, penggunaan kebaya, jas, maupun kostum yang berlebihan dapat menimbulkan beban biaya bagi orang tua serta berpotensi memunculkan kesenjangan sosial di antara siswa.
“Saya setuju dengan kebijakan tersebut karena selain memerlukan biaya yang cukup besar, juga dapat menimbulkan rasa minder bagi siswa yang tidak mampu. Karena itu, kami memilih menyelenggarakan kegiatan ini secara sederhana, namun tetap bermakna,” katanya.
Baca Juga:
Wakil Bupati Sumedang Tinjau TPT SDN Citraresmi, Pastikan Keamanan Siswa Jadi Prioritas
Pada kesempatan itu, Enung juga menyampaikan pesan penuh haru kepada para lulusan.
“Rasanya baru kemarin kalian datang dengan seragam putih biru yang masih kebesaran, membawa rasa malu-malu dan tawa polos di gerbang sekolah ini. Hari ini kalian berdiri sebagai pribadi yang lebih dewasa dan siap melangkah menuju masa depan yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tantangan baru yang harus dihadapi dengan semangat dan optimisme.
Baca Juga:
SMPN 5 Sumedang dan SMPN 1 Paseh Gelar In House Training Implementasi Pembelajaran Mendalam, Hadirkan Pakar Pendidikan UPI
“Lulus dari sekolah ini bukan akhir dari sebuah cerita, melainkan gerbang besar menuju petualangan sesungguhnya. Jangan pernah takut menghadapi dunia dan masa depan yang baru. Selamat atas kelulusan kalian, terbanglah tinggi, tetap rendah hati, dan buatlah orang tua bangga. Doa kami senantiasa menyertai kalian,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Komite SMPN 5 Sumedang, H. Uu Mulyana, mengucapkan selamat kepada seluruh siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di SMPN 5 Sumedang dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
Ia berpesan kepada siswa yang belum diterima di sekolah negeri agar tidak berkecil hati karena masih banyak peluang untuk meraih kesuksesan melalui sekolah swasta.