Dalam pandangannya, konsep Sunda menempatkan lemah cuncai atau tanah yang subur sebagai pangkal kehidupan dan sumber lahirnya tata krama serta kebijaksanaan hidup.
“Alam dan budaya itu tidak bisa dipisahkan. Ketika alam terjaga, budaya akan tumbuh. Sebaliknya, ketika alam rusak, peradaban pun terancam,” tegasnya.
Baca Juga:
Hujan Lebat dan Banjir Mengintai, PLN Minta Masyarakat Perhatikan Keselamatan Listrik
Wabup juga menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah derasnya arus budaya populer dan konten digital.
Menurutnya, budaya lokal harus mulai dipatenkan, dibranding, dan diperkenalkan secara lebih luas agar tetap relevan dan diminati generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Fajar Aldilla juga menyinggung persoalan lingkungan di Jawa Barat, seperti banjir dan longsor, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, termasuk pengelolaan sampah yang belum optimal serta maraknya galian ilegal.
Baca Juga:
Penanganan Bencana Hidrometeorologi Terus Diperkuat, BNPB Fokuskan Hunian dan Logistik
Ia menegaskan pentingnya edukasi preventif dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Sumedang, lanjutnya, terus melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah, namun membutuhkan kolaborasi semua pihak.
“Pemerintah daerah tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat dan komunitas menjadi kunci,” ujarnya.