Ia menambahkan, pendekatan dialog dan musyawarah dinilai efektif dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan masyarakat sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Kalau bisa diselesaikan di tingkat keluarga atau lingkungan, tentu tidak sampai mencuat menjadi persoalan yang lebih luas. Alhamdulillah, kerukunan umat beragama di Kabupaten Sumedang saya rasa cukup kondusif,” tambahnya.
Baca Juga:
Genjot Literasi dan Inklusi Keuangan, LPS Bersama UNIAS Gelar Workshop
Syamsul berharap melalui workshop tersebut para tokoh agama dapat semakin memahami langkah-langkah penanganan konflik, baik konflik antarumat beragama maupun intern umat beragama.
“Mudah-mudahan dari workshop ini menambah pengetahuan terutama dalam hal penanganan konflik keagamaan sehingga situasi di Kabupaten Sumedang tetap kondusif dan masyarakat bisa hidup tenang serta mendukung pembangunan daerah,” pungkasnya.
Adapun peserta yang hadir di antaranya Pengurus FKUB Sumedang, Pengurus Forum Pemuda Lintas Agama (FORMULA) Kabupaten Sumedang, perwakilan tokoh agama Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), ICMI Orda Sumedang, PC Nahdlatul Ulama (NU), PD Al-Jam’iyatul Washliyah, PC Syarikat Islam (SI), PD Persatuan Islam (PERSIS), PD Muhammadiyah, PD Persatuan Ummat Islam (PUI), PD LDII Kabupaten Sumedang, Pengurus FPK Kabupaten Sumedang, Pengurus FKDM Kabupaten Sumedang, tokoh pendidik/Guru PAI, serta perwakilan penyuluh agama dari Kecamatan Jatinangor, Tanjungsari, Cimanggung, Sumedang Selatan, Sumedang Utara, Situraja, dan Wado.
Baca Juga:
Cegah Misinformasi, Kemkomdigi Kembangkan Ruang Digital yang Inspiratif
[Redaktur: Ajat Sudrajat]