WAHANANEWS.CO, Sumedang - Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, Dr. Dadan Rahadian, menyampaikan sambutan penuh semangat dan kritik konstruktif saat mewakili Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sumedang pada kegiatan Pembinaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan yang dirangkaikan dengan Pelantikan Kepala Madrasah di lingkungan LP Ma’arif NU Kabupaten Sumedang.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Pusat Pemerintahan Sumedang, Minggu (01/02/2026), dan dihadiri oleh pengurus LP Ma’arif, Kepala Madrasah, Guru, serta Tenaga Kependidikan.
Baca Juga:
Sumedang Walker Meriahkan HUT ke-22 SMANTISU, Dibuka Langsung Bupati Sumedang
Dalam sambutannya, Dr. Dadan menegaskan bahwa secara ideal madrasah-madrasah di bawah naungan LP Ma’arif NU seharusnya menjadi lembaga pendidikan unggulan dan diminati masyarakat luas.
Hal tersebut, menurutnya, sangat mungkin terwujud mengingat Nahdlatul Ulama telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
“Seharusnya LP Ma’arif tidak perlu susah payah mencari siswa. Pengurus NU, pengurus Ma’arif, ISNU, PERGUNU, IPNU jumlahnya ratusan. Kalau masing-masing membawa satu anak saja, Insya Allah madrasah sudah penuh,” ujarnya dengan nada tegas.
Baca Juga:
Wabup Sumedang Temukan Fasilitas Sekolah Rusak Parah di SMPN 2 Situraja
Namun demikian, ia mengungkapkan adanya persoalan mendasar yang perlu menjadi bahan introspeksi bersama, yakni masih rendahnya kepercayaan sebagian warga NU sendiri terhadap lembaga pendidikan Ma’arif.
“Pertanyaannya besar, kenapa anak-anak pengurus tidak disekolahkan ke Ma’arif? Ini harus kita pecahkan bersama. Ketidakpercayaan itu tidak datang tiba-tiba, tentu ada sebabnya, dan itu harus dijawab oleh kita semua, terutama para guru dan kepala madrasah,” tegasnya.
Dr. Dadan menekankan bahwa kepercayaan masyarakat akan tumbuh apabila lembaga pendidikan dikelola secara profesional sesuai standar.
Ia mencontohkan fenomena sekolah tertentu yang tetap diminati meskipun biaya pendidikan tinggi, karena adanya kepuasan dan kepercayaan publik terhadap mutu lembaga tersebut.
“Kalau kita menjalankan tugas sesuai standar saja, Insya Allah kita sudah melebihi rekomendasi. Siswa tidak perlu dicari, mereka akan datang sendiri,” katanya.
Guru Harus Terus Belajar dan Menjadi Teladan
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh guru dan kepala madrasah di lingkungan LP Ma’arif untuk terus bergerak, bangkit, dan meningkatkan kompetensi.
Menurutnya, guru adalah pembelajar sepanjang hayat, terlebih dalam tradisi NU yang menekankan pentingnya terus mengaji dan menuntut ilmu.
“Di era digital, ada satu hal yang tidak bisa didigitalkan, yaitu keteladanan. Memberi contoh, membangun adab, rasa hormat kepada guru, orang tua, dan sesama, itu tidak ada di dunia digital,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual dapat ditingkatkan melalui pembelajaran, namun pembentukan akhlak mulia hanya bisa dicapai melalui pembiasaan dan keteladanan nyata dari para pendidik.
Tantangan Literasi Al-Qur’an
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Dadan juga mengungkapkan data hasil pemantauannya selama tujuh bulan menjabat sebagai Kasi Pendidikan Madrasah.
Ia menyebutkan masih ditemukannya peserta didik, bahkan sebagian tenaga pendidik, yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
“Di tingkat MI, hampir 40 persen peserta didik belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Ini menjadi tugas besar kita bersama. Minimal, bagaimana peserta didik bisa membaca Al-Qur’an sesuai kaidah, dengan benar dan bermakna,” ujarnya.
Pendidikan sebagai Jalan Menuju Peradaban Mulia
Awal sambutannya, Dr. Dadan menegaskan bahwa LP Ma’arif merupakan mitra strategis Kementerian Agama dalam penyelenggaraan pendidikan madrasah, mulai dari RA, MI, MTs hingga MA.
Ia mengaitkan peran strategis pendidikan Ma’arif dengan visi besar NU dan negara menuju Indonesia Emas 2045 serta peradaban mulia.
“Untuk mencapai peradaban mulia, salah satu kuncinya adalah pendidikan. Ini sejalan dengan program Kementerian Agama dalam Asta Protas, yakni mewujudkan madrasah yang unggul, terintegrasi, ramah anak, serta didukung tata kelola dan digitalisasi yang baik,” pungkasnya.
Ia pun menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan harus diawali dengan perencanaan yang baik (good planning system), tata kelola yang profesional (good governance system) dan Guru yang baik ( Good Teacher), sebagai fondasi utama bagi kemajuan lembaga pendidikan Ma’arif.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]