WAHANANEWS.CO, Sumedang - Prosesi pengembalian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake ke Keraton Sumedang Larang berlangsung khidmat pada Senin (18/05/2026).
Momen tersebut menandai berakhirnya rangkaian Kirab Mahkota Binokasih Tatar Sunda yang sebelumnya mengelilingi sejumlah wilayah di Jawa Barat sebagai simbol penguatan identitas budaya Sunda, persatuan masyarakat, dan kebangkitan nilai-nilai leluhur.
Baca Juga:
Survei IPI Buka Bursa Capres 2029, Sjafrie dan Dedi Mulyadi Masuk Radar
Prosesi penyerahan Mahkota Binokasih dipapag menuju Keraton Sumedang Larang oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aladila, unsur Forkopimda, tokoh adat, serta jajaran pemerintah daerah.
Ribuan masyarakat turut menyaksikan prosesi budaya yang menjadi puncak perjalanan kirab tersebut.
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi mengatakan kirab Mahkota Binokasih menghadirkan banyak pelajaran penting bagi pembangunan daerah, terutama dalam penguatan budaya dan dampak ekonomi masyarakat.
Baca Juga:
Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang Kecewa Pembangunan Menara Smart Pole Tanpa Izin
“Dari kirab Tatar Sunda ini banyak hal yang ditemukan dan banyak hal yang harus dikerjakan. Dari sisi ekonomi, kegiatan ini memberikan implikasi yang cukup kuat. Kita lihat hotel-hotel penuh, kunjungan masyarakat ke berbagai daerah meningkat, dan beberapa wilayah mulai tampak lebih bersih. Ini spirit yang harus terus dibangun,” ujar Dedi.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat sepanjang perjalanan kirab menjadi bukti bahwa budaya Sunda masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat Jawa Barat.
“Kalau dihitung, masyarakat yang hadir menyambut kirab ini jumlahnya sudah jutaan orang. Ini peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jawa Barat. Spirit ini harus dijaga dan dijadikan energi untuk membangun daerah,” katanya.