Dedi menegaskan momentum budaya tersebut harus diikuti dengan pembenahan tata ruang, kebersihan lingkungan, arsitektur kawasan, hingga penguatan identitas daerah, khususnya di sekitar situs budaya dan keraton.
“Seluruh daerah ke depan harus jauh lebih baik. Kebersihan lingkungannya harus ditingkatkan, penataan kotanya diperkuat, branding daerah dikembangkan, dan estetika kawasan harus dijaga. Jangan dulu berpikir wisata, jangan dulu berpikir hasil. Tata dulu lembur kita, tata kota kita. Setelah itu, hikmah dan manfaatnya akan datang,” tuturnya.
Baca Juga:
Survei IPI Buka Bursa Capres 2029, Sjafrie dan Dedi Mulyadi Masuk Radar
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keselarasan pembangunan di kawasan sekitar keraton agar tidak menghilangkan identitas historis dan nilai budaya warisan leluhur Sunda.
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyampaikan rasa syukur atas kembalinya Mahkota Binokasih ke tanah Sumedang setelah menempuh perjalanan budaya ke berbagai daerah di Jawa Barat.
“Alhamdulillah, sebuah perjalanan besar Tatar Sunda dimulai dari Sumedang dan kini kembali lagi ke Sumedang. Terima kasih kepada semua pihak yang telah menjaga agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, damai, dan lancar,” ujarnya.
Baca Juga:
Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang Kecewa Pembangunan Menara Smart Pole Tanpa Izin
Menurut Dony, kirab Mahkota Binokasih bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda agar memahami akar peradaban Sunda.
“Masyarakat, anak-anak sekolah, para pemuda hingga orang tua kini semakin memahami sejarah kerajaan Sunda. Lebih dari itu, nilai-nilai luhur yang diwariskan harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia menambahkan, nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh harus terus dihidupkan sebagai fondasi pembangunan masyarakat Sunda yang harmonis dan sejahtera.