"Saat ini kualitas produk saja belum cukup. Pelaku usaha harus mampu memanfaatkan media sosial, marketplace, sistem pembayaran digital, serta strategi pemasaran berbasis teknologi agar mampu bersaing di pasar yang semakin luas," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan bagi seluruh pelaku ekonomi kreatif.
Baca Juga:
Komisi VII DPR Dorong Industri Animasi dan Konten Digital Jadi Motor Baru Ekonomi Kreatif Indonesia
Dede berharap para peserta memanfaatkan pelatihan tersebut secara maksimal sehingga mampu melahirkan pelaku ekonomi kreatif yang inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu memperluas akses pasar, membuka lapangan kerja, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sumedang atas sinergi yang telah dibangun dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif.
Ia menyebut Sumedang Creative Center sebagai salah satu creative hub paling aktif di Indonesia karena hampir setiap hari menghadirkan berbagai kegiatan kreatif.
Baca Juga:
Wamen Ekraf Tekankan Peran Generasi Muda dalam Mendorong Ekonomi Kreatif Nasional
"Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Sumedang. Sinergi dan kolaborasi yang dibangun sangat luar biasa, begitu juga antusiasme para pegiat ekonomi kreatif. Sumedang Creative Center menjadi salah satu creative hub yang paling aktif di Indonesia," ujar Dessy.
Ia juga menyampaikan salam dari Menteri Ekonomi Kreatif yang dijadwalkan hadir di Sumedang pada siang hari untuk meninjau berbagai aktivitas ekonomi kreatif di Sumedang Creative Center.
Menurut Dessy, membangun ekonomi kreatif bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh unsur, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga lembaga keuangan.