“Ketika orang luar Sumedang datang ke Sumedang dan membeli batik itu, orang bisa langsung tahu, ‘ini Sumedang’. Saya ingin membangun itu, sehingga top of mind di Indonesia adalah Sumedang dengan batiknya,” tutur Doni.
Tidak Berhenti di Lomba
Baca Juga:
Norbertus Mote Buka Festival Noken Nabire Mewakili Gubernur Papua Tengah
Doni menegaskan, Sumedang Ngabatik 2026 tidak boleh berhenti sebagai kegiatan perlombaan semata. Menurutnya, kegiatan tersebut harus memiliki konsep pengembangan dari hulu hingga hilir.
“Ini kegiatannya sistematis, hulu sampai hilir. Tidak hanya sebatas lomba, selesai. Setelah lomba ada coaching, pelatihan, hasil desainnya nanti akan dibawa untuk membatik,” jelasnya.
Para pemenang juga akan mendapatkan pendampingan dan pembinaan agar kemampuan mereka terus berkembang. Hasil karya terbaik nantinya akan diperkenalkan dalam berbagai agenda nasional dan pameran yang berkaitan dengan batik dan industri.
Baca Juga:
Pemuda dan masyarakat Kabupaten Nabire Peringati Hari Noken Sedunia
Doni berharap pola pembinaan tersebut mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para perajin dan pelaku usaha batik di Kabupaten Sumedang.
“Dilatih kemampuannya, kemudian diasistensi, dibimbing, dibina, dan juga diberikan wadah untuk pemasarannya. Sehingga betul-betul batik ini memberikan peluang ekonomi yang lebih besar bagi para pengrajin batik,” pungkasnya.
Dengan rangkaian tersebut, Sumedang Ngabatik 2026 diharapkan tidak hanya melahirkan motif-motif baru, tetapi juga membangun ekosistem batik Sumedang yang kuat, berkelanjutan, memiliki identitas daerah, serta mampu bersaing dan dikenal di tingkat nasional.