“Mobil ini jarak tempuhnya sekitar 460 kilometer dengan pengisian penuh. Dari 0 sampai 100 persen biayanya sekitar Rp80.000 sampai Rp100.000. Itu bisa bolak-balik Sumedang–Jakarta. Kalau pakai bensin bisa sampai satu juta rupiah,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah terus memperbanyak fasilitas pengisian daya di area publik.
Baca Juga:
Perkuat Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Kembali Dukung PEVS
“Mudah-mudahan ke depan tempat charging seperti ini semakin banyak. Apalagi ini yang pertama di Indonesia dengan konsep terintegrasi,” katanya.
Sementara itu, Yoga Pradana, Tim Leader Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN, menyampaikan bahwa PLN siap mendukung penuh kebijakan pemerintah dalam pengembangan infrastruktur kendaraan listrik.
“Kami mengikuti instruksi pemerintah untuk terus menambah fasilitas charging dengan berbagai skema kerja sama. Ada skema PLN menyediakan alat, mitra menyediakan lahan, dan ada juga skema pihak ketiga menyediakan alat, sementara PLN mendukung dari sisi aplikasi dan distribusi listrik,” ujarnya.
Baca Juga:
Perkuat Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Kembali Dukung PEVS
Yoga mengungkapkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik di Sumedang menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun.
Pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga 5 Januari 2026, terjadi peningkatan signifikan penggunaan SPKLU.
“UP3 Sumedang menjadi salah satu lokasi favorit karena tersedia pelayanan yang lengkap. Kami juga bersiaga di rest area 166 dan 164. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, bahkan sempat terjadi antrean meski unit SPKLU sudah ditambah,” jelasnya.