Sebagai praktisi batik yang telah berkecimpung selama hampir tiga dekade, Komaraudin mengatakan dirinya telah banyak mengembangkan berbagai aspek perbatikan, mulai dari praktik membatik, pengajaran, pembuatan alat dan teknologi batik hingga penulisan buku terkait batik.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman para perajin mengenai karakteristik batik, termasuk kemampuan membedakan batik dengan produk yang bukan batik.
Baca Juga:
Business Matching Kemendag di Korea Selatan Hasilkan Realisasi Ekspor dan Buka Peluang Transaksi Baru
Menurutnya, Sumedang saat ini perlu terus memperkuat identitas ikon batiknya. Identitas tersebut nantinya diharapkan tidak hanya menjadi karya budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk yang digunakan secara luas oleh masyarakat.
“Sebagus apa pun dan seindah apa pun ibu membuat batik, tetapi kalau tidak ada yang membeli dan tidak ada yang memakai, saya yakin dalam dua atau tiga bulan bisa berhenti lagi,” ungkapnya.
Karena itu, Komaraudin mendorong agar pengembangan batik Sumedang dibarengi strategi pemasaran dan perluasan pasar, termasuk mendorong penggunaan batik oleh aparatur sipil negara (ASN).
Baca Juga:
Indonesia Raih Kemenangan Parsial di WTO, Pemerintah Perjuangkan Akses Ekspor Fatty Acid ke Uni Eropa
Ia juga menyampaikan adanya rencana kegiatan yang melibatkan para perajin batik Sumedang dalam agenda batik Jawa Barat pada Oktober mendatang.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pembekalan bagi para perajin, termasuk mengenai pemasaran dan bisnis batik.
Di kesempatan yang sama, Inisiator Sumedang Ngabatik sekaligus Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar, Galih Dimuntur Kartasasmita, menyampaikan sambutannya secara virtual.